FILOSOFI
UDANG KOTA CIREBON
Tentunya kita
sering mendengar bahwa Kota Cirebon adalah “Kota Udang”. Dibalik sebutan itu
sebenarnya tersimpan sebuah makna yang tersembunyi, dan bahkan mungkin bisa
menjadi ideologi dari masyarakat Cirebon. Dalam sebutan sebuah daerah pasti
mempunyai makna dan tujuan yang berbeda, begitupun dengan Kota Cirebon. Sebutan
“Kota Udang” ini bisa disebut sebagai sebuah ikhtiar bagi orang-orang yang
berperan dalam berdirinya Kota Cirebon, sekaligus menjadi harapan agar
masyarakat Cirebon mempunyai karakteristik seperti Udang. Kata “Udang” disini
mempunyai makna bahwasannya udang adalah hewan yang kotorannya berada di atas
kepalanya, udang menunjukkan kotorannya terlebih dahulu sebelum ia menunjukkan
rasa lezatnya yang terdapat dalam tubuhnya. Hal ini dimaksudkan bahwa
masyarakat khususnya warga Cirebon diharapkan memiliki sifat tawadhu, sifat
yang menampakkan diri rendahnya pada orang yang ingin mengagungkan. Karena
Rasulullahpun menganjurkan agar diri kita memiliki sifat tawadhu dan jangan
menyombongkan diri (berbangga diri) sampai melampaui batas pada yang lainnya.
Hal ini juga berkaitan dengan ucapan
Sunan Gunung Jati “ngumpatana ira ing papadangan”, kalimat tersebut jika
kita translite dalam bahasa Indonesia adalah “sembunyilah kamu dalam keterangan”.
Kalimat tersebut mempunyai makna bahwa kita diharapkan untuk tidak menampakkan
seberapa tinggi ilmu yang kita miliki ataupun dalam sesuatu hal lainnya yang
bisa membuat diri kita sombong. Karena dalam kalimat tersebut kita dianjurkan
untuk sembunyi, kata sembunyi yang dapat kita katakan mempunyai arti luas.
Sembunyi yang akan membawa kita berproses untuk menghasilkan sebuah sifat
tawadhu, sifat yang mulia.




















